Contoh Turut Mengundang dalam Undangan untuk Berbagai Acara: Nikah, Khitan, dan Syukuran
‘Turut mengundang’ adalah kolom undangan yang mencantumkan nama keluarga atau tokoh lain yang juga mengajak tamu hadir. Umumnya digunakan di undangan nikah, dan dapat pula dipakai untuk khitan atau syukuran. Artikel ini membahas arti, etika penulisan, perbedaan konteks acara, serta menyajikan 18 contoh kalimat siap pakai untuk memastikan undangan Anda sopan, ringkas, dan lengkap.
- Key Takeways
- Apakah “Turut Mengundang” Masih Relevan di Era Modern?
- Perbedaan Penulisan “Turut Mengundang” untuk Nikah, Khitan, dan Syukuran
- Contoh “Turut Mengundang” dalam Undangan Acara Nikah
- Contoh “Turut Mengundang” dalam Undangan Acara Khitan
- Contoh “Turut Mengundang” dalam Undangan Acara Syukuran
- Template Singkat dan Formal
- Kesalahan Umum dalam Menulis “Turut Mengundang”
- Tips untuk Undangan Cetak vs Undangan Digital
- FAQ
Key Takeways
- Definisi: “Turut mengundang” adalah daftar nama pihak lain (keluarga, sesepuh, tokoh) yang ikut bertanggung jawab mengundang tamu. Bagian ini memberi penghormatan dan mengajak tamu penting agar hadir.
- Kapan dipakai: Pada undangan nikah hampir selalu dicantumkan untuk menghormati keluarga inti/besar. Untuk acara khitan atau syukuran, kolom ini bersifat opsional tergantung formalitas dan ukuran acara.
- Apa yang didapat: Artikel ini menyediakan penjelasan “turut mengundang”, tips format cetak/digital, dan 18 contoh kalimat (6 nikah, 6 khitan, 6 syukuran). Anda juga akan tahu kesalahan umum yang harus dihindari dan cara menulis undangan yang sopan serta mudah dipahami.
Undangan pernikahan di Indonesia sering memuat bagian “Turut Mengundang” untuk mencantumkan pihak-pihak lain yang ikut mengundang tamu. Menurut KBBI, kata “turut” berarti ikut ambil bagian dan “mengundang” artinya meminta seseorang hadir. Dengan demikian, “turut mengundang” menunjukkan partisipasi aktif keluarga atau sesepuh dalam mengundang tamu. Budaya mencantumkan keluarga besar atau orang penting ini khas Indonesia. Tidak seperti di banyak negara lain yang hanya mencantumkan mempelai dan orang tua, di Indonesia sanak keluarga atau tokoh masyarakat diberi tempat khusus sebagai bentuk penghormatan.
Pada dasarnya tidak ada aturan baku tentang kapan persisnya harus ada kolom “turut mengundang”. Menurut para praktisi undangan, bagian ini digunakan jika keluarga besar atau tokoh tertentu perlu dihormati secara khusus dalam acara. Misalnya, jika mempelai masih muda di bawah bimbingan kakek-nenek, maka kakek-nenek bisa dicantumkan di kolom ini. Untuk acara nikah, umumnya kedua keluarga (Ayah, Ibu mempelai) hampir selalu dicantumkan. Namun untuk khitan atau syukuran (tasyakuran), penulisannya lebih fleksibel. Kolom “turut mengundang” bisa diisi hanya “kami sekeluarga” saja atau bahkan dihilangkan jika undangan dirasa sudah panjang. Dalam hal ini, penulisan nama detail di turut mengundang sebenarnya lebih ke sopan santun adat daripada keharusan baku.
Apakah “Turut Mengundang” Masih Relevan di Era Modern?
Seiring digitalisasi undangan, penggunaan frasa ini masih dipertahankan untuk undangan formal. Menurut nikah.postingque.com, walaupun undangan kini bisa berupa tautan web atau pesan singkat, menyertakan bagian “Turut Mengundang” tetap menunjukkan keformalan dan penghormatan.
Contohnya, template undangan digital terbaru pun kadang menyediakan area untuk mencantumkan daftar keluarga atau tokoh yang mengundang. Namun, pada undangan santai (misalnya via WhatsApp personal), bagian ini kadang diabaikan demi kepraktisan. Pada intinya, jika acara berskala besar atau formal, “turut mengundang” masih sesuai dipakai. Sebaliknya, jika pengundang merasa cukup menyebutkan “kami sekeluarga” saja, kolom ini bisa dipangkas.
Menuruk PUEBI, penulisan gelar dan sapaan dalam undangan harus tepat. Misalnya, kata Bapak/Ibu wajib diawali huruf kapital karena merupakan sapaan resmi. Ini juga berlaku saat menulis di kolom “turut mengundang”. Pastikan gelar (H./Hj., Dr., S.E., dsb.) ditulis lengkap dan nama lengkap orang dituliskan secara benar. Menurut nikah.postingque.com, kesalahan penulisan nama atau gelar bisa menyinggung tamu, jadi pengecekan ganda sangat dianjurkan.
Perbedaan Penulisan “Turut Mengundang” untuk Nikah, Khitan, dan Syukuran
Konteks acara mempengaruhi detail penulisan turut mengundang. Pada undangan nikah, bagian ini biasanya diisi keluarga inti kedua mempelai (orang tua, kakek-nenek, dan kakak-kakak) atau bahkan pihak besar seperti kerabat jauh jika diperlukan. Nada bahasanya cenderung formal. Misalnya “Bapak H. Sutrisno & Ibu Hj. Siti Rahma” atau “Keluarga Besar Bapak Sulaiman”. Urutannya menurun dari senior (kakek-nenek) ke yang lebih muda sesuai etiket.
Untuk undangan khitan, penulisan biasanya lebih sederhana. ‘Turut Mengundang’ bisa dicantumkan jika acara digelar besar atau melibatkan dua keluarga besar. Seringkali hanya ditulis “Keluarga Bapak [Nama Ayah] & Ibu [Nama Ibu]” tanpa menyebut nama lain. Dalam contoh undangan khitan yang ditemukan, terkadang tetap dicantumkan tokoh atau sanak saudara yang mengundang, tetapi lebih umum jika hanya keluarga inti yang dicantumkan sebagai pengundang. Tone-nya umumnya lebih hangat dan sederhana.
Pada syukuran (misalnya setelah pernikahan, aqiqah, atau kelahiran), penulisan turut mengundang juga fleksibel. Jika syukurannya keluarga dekat, bisa diisi “Segenap keluarga [Nama Mempelai/Syukuran]” saja tanpa detail panjang. Namun untuk acara syukuran besar (seperti walimatul ursy), beberapa orang masih menuliskan daftar keluarga besar atau panitia sebagai pengundang. Misalnya format yang umum: “Hormat kami,” diikuti kolom “Turut Mengundang” dengan nama keluarga. Gaya bahasanya cenderung resmi tetapi bisa sedikit lebih santai ketimbang undangan nikah. Yang penting, agar sikap saling menghormati tetap terjaga.
Contoh “Turut Mengundang” dalam Undangan Acara Nikah
Berikut 6 contoh kalimat siap pakai untuk kolom “Turut Mengundang” di undangan pernikahan:
- Format Formal (keduanya orang tua):
Turut Mengundang: Kel. Bapak H. Ahmad Fauzi & Ibu Hj. Siti Aminah (Orang tua mempelai pria); Kel. Bapak H. Sutrisno & Ibu Hj. Dian Pratiwi (Orang tua mempelai wanita). - Formal dengan Hierarki Keluarga:
Turut Mengundang: Bpk. Karto (Kakek Mempelai Pria) & Ibu Munawaroh (Nenek); Bpk. Johan & Ibu Lestari (Orang tua mempelai wanita); Keluarga Besar Mempelai Pria; Keluarga Besar Mempelai Wanita. - Semi-Formal (keluarga inti saja):
Turut Mengundang: Keluarga Bpk. Agus Riyadi (meliputi Ayah, Ibu, Kakak/adik) dan keluarga Bpk. Dedi Santoso. - Singkat (undangan minimalis):
Turut Mengundang: Keluarga Besar Memenuhi Undangan.
(Pilihan sederhana untuk undangan digital/WA. Maksudnya: keluarga besar mempelai yang mengundang.) - Keluarga Besar Lengkap:
Turut Mengundang: Keluarga Bpk. Hasanudin (Solo); Keluarga Bpk. Bambang (Yogyakarta); Bpk. Candra & Ibu Desi (Saudara dekat); Bpk. Pak In (Panitia). - Versi Aman (ringkas):
Turut Mengundang: Eyang Putri, Eyang Utara, Pakde/Ibu Nur, Bpk. Eko & Ibu Ayu.
(Contoh aman dengan penulisan sapaan seperti yang umum dalam keluarga.)
Contoh “Turut Mengundang” dalam Undangan Acara Khitan
Berikut 6 contoh untuk undangan khitanan:
- Format Resmi Keluarga Lengkap:
Turut Mengundang: Keluarga Bpk. Dedi Sudarsono (Ayah/keluarga inti); Keluarga Bpk. Bambang Santoso (Kakek/Nenek); Bpk. Agus (Paman); Bpk. Rudi (Keluarga Besar). - Semi-Formal (keluarga inti):
Turut Mengundang: Keluarga Bpk. H. Sudirman (Ayah), Keluarga Bpk. Sutarno (Kakek). - Singkat (cepat):
Turut Mengundang: Kami sekeluarga.
(Biasanya ditambahkan pada akhir salam undangan.) - Keluarga Besar (panitia):
Turut Mengundang: Panitia Khitanan ‘Ananda Fulan’ dari Keluarga Besar Bpk. Ariyanto. - Resmi Singkat:
Turut Mengundang: Bpk. Ahmad (Ayah) & Ibu Siti (Ibu); Keluarga Besar. - Versi Undangan Digital:
Turut Mengundang: Keluarga Besar [Nama Keluarga]**.
(Bentuk aman untuk undangan online, cukup menegaskan keluarga inti.)
Contoh “Turut Mengundang” dalam Undangan Acara Syukuran
Berikut 6 contoh untuk undangan syukuran (seperti syukuran pernikahan, kelahiran, atau peristiwa lain):
- Formal Keluarga Inti:
Turut Mengundang: Keluarga Bpk. Abdul Karim & Ibu Sri Dewi (Tuan Rumah); Keluarga Bpk. Hasan & Ibu Nur (Sahabat). - Ringkas Menyebut Semua:
Turut Mengundang: Segenap Keluarga Besar Memenuhi Undangan. - Santai (keluarga/sahabat):
Turut Mengundang: Pakde & Bude Ahmad, Pak Abu Syafi’i. - Undangan Aqiqah (agama):
Turut Mengundang: Bapak/Kakek H. Joko (Mebel Keluarga); Ibu Hj. Rasmini; Para Ustadz & Tokoh Warga. - Syukuran Keluarga Besar:
Turut Mengundang: Keluarga Besar Bpk. Setiawan & Keluarga Besar Bpk. Junaidi. - Versi Kantor/Komunitas:
Turut Mengundang: Komunitas Santun Bermasyarakat (bersama keluarga besar mempelai).
Template Singkat dan Formal
Berikut contoh template singkat yang bisa langsung digunakan (misalnya pada undangan berukuran kecil atau WA):
| Jenis Acara | Contoh “Turut Mengundang” |
|---|---|
| Pernikahan | Turut Mengundang: Keluarga Bpk. Ahmad & Hj. Siti (Orang Tua & Keluarga) |
| Khitan | Turut Mengundang: Keluarga Bpk. Ali (Ayah) & Keluarga Bpk. Budi (Kakek) |
| Syukuran | Turut Mengundang: Segenap Keluarga Besar [Nama] |
Tabel di atas menunjukkan format singkat formal. Untuk undangan digital, Anda bisa menulis “Turut Mengundang:” dengan huruf awal kapital lalu nama famili (PUEBI: Bapak/Ibu dan gelar juga harus benar ditulis dengan kapital). Jika memberi ruang cetak terbatas, tulis “Kel.” (Keluarga) di depan, misalnya “Kel. Bpk. Ali”.
Kesalahan Umum dalam Menulis “Turut Mengundang”
Beberapa kesalahan yang harus dihindari agar undangan tetap sopan:
- Tidak Menulis Gelar dengan Lengkap. Menurut PUEBI, gelar harus dicantumkan benar (contoh: H. Nama, S.Pd.). Kesalahan seperti menulis gelar setengah atau lupa titik bisa dianggap kurang hormat.
- Urutan Nama Tercampur. Idealnya tulis nama lebih tua/senior dulu (kakek-nenek sebelum kakak-adik). Menurut nikah.postingque.com, salah urut seperti menempatkan adik di atas kakek akan jadi kurang sopan.
- Melewatkan Pihak Penting. Jangan lupa mencantumkan pihak yang memang ingin diikutsertakan (misal wali/penasihat). Praktik umum, selalu diskusikan daftar nama ini dengan orang tua masing-masing agar tidak ada yang tersinggung.
- Terlalu Panjang atau Bertele-tele. Tulisan turut mengundang sebaiknya ringkas. Jika terlalu banyak nama, bisa digolongkan (misalnya gunakan “Keluarga Besar”). Menurut nikah.postingque.com, format bertele-tele membuat undangan tidak nyaman dibaca.
- Penulisan Sapaan Tidak Konsisten. Huruf kapital di “Bapak”/“Ibu” sangat penting. Jangan mencampur “bapak” kecil dengan “Ibu” besar. Hal ini terlihat sederhana, tapi berpengaruh pada kesan resmi.
Tips untuk Undangan Cetak vs Undangan Digital
Pada undangan cetak, ruang terbatas sering menjadi kendala. Pilihlah format turut mengundang yang ringkas (misal, gunakan “Kel. Bapak” untuk keluarga besar). Hindari tulisan terlalu kecil yang sulit dibaca. Untuk gelar dan nama, ikuti kaidah PUEBI agar undangan terlihat rapi.
Sedangkan undangan digital/web, ruang tidak seketat cetak, tetapi pembaca biasanya menelusuri dengan cepat. Menurut nikah.postingque.com, di undangan online, “turut mengundang” tetap boleh dicantumkan jika acara formal. Namun, Anda juga bisa menyelipkannya dalam menu tambahan (misalnya slide terpisah) agar tidak mengganggu desain utama. Bagaimanapun, pada undangan digital penting menyampaikan informasi inti; jangan sampai fitur “turut mengundang” membuat isi utama terabaikan.
Pada kedua format, penting menyesuaikan gaya bahasa. Untuk acara resmi, gunakan Bapak/Ibu dan gelar lengkap. Jika undangan lebih kasual (misalnya syukuran keluarga), sapaan bisa sedikit santai, tapi tetap hormat. Intinya, pilih format yang paling sesuai dengan audiens.
FAQ
Apakah undangan syukuran perlu mencantumkan ‘turut mengundang’?
Bergantung pada acara. Jika syukurannya besar (contoh: walimatul ursy atau tasyakuran kelahiran ramai), bagian turut mengundang bisa membantu mencantumkan keluarga besar atau panitia. Namun jika acaranya sederhana dan hanya dihadiri keluarga dekat, Anda cukup menulis “kami sekeluarga mengundang” tanpa daftar nama panjang.
Siapa saja yang boleh dicantumkan di bagian ‘turut mengundang’?
Umumnya: orang tua mempelai, kakek-nenek, saudara kandung yang sudah menikah, dan tokoh penting (misalnya tokoh agama atau kepala desa jika konteksnya resmi). Menurut etika umum, sebut nama sepuh lebih dulu. Jika disebut anggota keluarga, gunakan istilah “Keluarga Besar” jika jumlahnya banyak, misalnya “Keluarga Besar Bapak A dan Ibu B”.
Apakah undangan digital masih perlu bagian ‘turut mengundang’?
Tidak wajib, tapi bisa disertakan bila acara formal. Undangan digital memberi fleksibilitas – Anda bisa menempatkan turut mengundang di halaman khusus (folder online) atau slide tersendiri. Jika tamu penerima orang tersendiri (bukan keluarga inti), mencantumkannya tetap dianggap sopan. Namun untuk undangan sehari-hari yang informal, bagian ini sering dihilangkan.
Bolehkah menulis nama keluarga besar secara singkat?
Boleh, dengan catatan jangan menyingkat nama orang. Contohnya “Kel. Bpk. Joko Widodo” untuk keluarga besar Ayah. Jika merujuk pada seluruh keluarga inti, cukup tulis “keluarga Besar” atau “Kami sekeluarga”. Intinya, pastikan tamu tetap memahami siapa yang dimaksud, tanpa membuat tampilan berantakan.
Apa bedanya undangan formal dan yang lebih santai dalam penulisan ‘turut mengundang’?
Pada undangan formal (pernikahan adat, pernikahan agama), turut mengundang cenderung rinci dan tertata (nama lengkap dengan gelar, urutannya disiplin). Pada undangan santai atau non-budaya khusus, daftar ini bisa lebih ringkas (misal hanya “keluarga Bapak/Ibu” atau “kami sekeluarga”) dan bahasanya biasa saja. Perbedaan utamanya di tingkat detail dan tata penulisan (formalisme)
Add a review
Your email address will not be published. Required fields are marked *